5.23.2009

Afterlife

Sendiri. Dari atas sini mataku menyusuri jalanan di bawah sana. Sepi. Mungkin udara terlalu panas bagi untuk mereka keluar. Segerombolan anak sekolah dengan suara motornya yang berisik melintas memecah keheningan. Berlalu begitu saja, seakan tidak perduli dengan kehadirannya yang mengganggu. Ku lihat dari ujung pertigaan muncul seorang anak kecil. Mungkin masih SD. Tapi dia tidak memakai seragam. Dia memakai baju yang lusuh. Dengan sebuah karung yang melekat di punggungnya menyerupai tas. Dia melongok ke tempat sampah, terlihat seperti mencari-cari sesuatu di dalamnya. Berpindah dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain. Tangannya cekatan mengacak-acak. Ku rasakan sesuatu dalam diriku. Sesuatu telah meleleh. Telah mencair. Pandangan ku semakin terpancang padanya. Berpikir. Aku mulai berpikir semakin keras. Apa dia pernah bermimpi menghabiskan waktu bersama keluarganya? Apa dia pernah bermimpi bersenang-senang dengan teman-temannya? Dia terlalu manis untuk pekerjaan itu. Tidak seharusnya dia melakukan aktivitas itu. Mungkin yang ada di kepalanya hanya mengacak-acak semua tempat sampah yang ada di kota ini. Mencari harapan hidupnya yang hilang. Mencari mimpinya yang memudar entah ke mana. Mata ku beralih pada jendela kaca Ruang Tari. Ku lihat bayangan diriku di sana. Ku pandangi diriku lekat-lekat. Andrew Rio. Bangkit lah. Buka kedua matamu. Kamu tidak boleh berhenti di sini. Ayo, berlarilah...

I don't belong here,
we gotta move on dear escape from this afterlife
’Cause this time I'm right to move on and on,
far away from here...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar