Beberapa minggu lalu firasat ku bergejolak nggak enak. Setiap kali aku duduk di depan komputer selalu saja terjadi hal-hal yg tidak diinginkan. Di awali dengan suara kipas CPU yg berbunyi seperti jangkrik: kriik..kriik..kriik.. Lalu catridge printer yg mulai kumat rewel lagi. Serta suara speaker yg cuma sebelahan. My feeling gonna bad. Di suatu sore, aku lagi ngetik ngerjain karya tulis. Banyaaaak banget. Das! Tau-tau listrik mati! Oh, untung pas listrik nyala dokumen masih ter-cover. Lanjut lagi ngetiknya. 1 halaman. 2 halaman. 8 halaman. Di monitor mulai muncul garis-garis hitam horizontal. Semakin lama semakin banyak. Oh, ingatan ku kembali ke memori 1 tahun silam, jangan-jangan…Simsalabim! Display monitor menyempit hingga hanya terlihat ¼ bagian monitor! Apa ku bilang? Serentetan kejadian tadi memang suatu pertanda. Cuma ada 1 cara buat bikin display kembali seperti semula. Monitor ini harus di toyor lebih dahulu, di tampar sekeras-kerasnya. Ah, sial amat nasib ku. Kenapa harus di saat genting seperti ini? Ingin rasanya aku mengambil martil dan menghancurkan semua yang ada di meja komputer itu.
Dan di saat yang memilukan ini, si tukang servis itu sekarang ada jauh di barat sana. Mungkin dia sekarang sedang terkekeh-kekeh di depan laptop barunya itu. Seakan mengucap: “Rasakan itu anak kecil!ehehe…”. Sungguh keadaan yg sangat kontras sekali.
Dan di saat yang memilukan ini, si tukang servis itu sekarang ada jauh di barat sana. Mungkin dia sekarang sedang terkekeh-kekeh di depan laptop barunya itu. Seakan mengucap: “Rasakan itu anak kecil!ehehe…”. Sungguh keadaan yg sangat kontras sekali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar